Thursday Night Run (TNR)

Kamis minggu lalu (19 Juli 2018) saya mengikuti sebuah program Thursday Night Run yang diakomodir oleh komunitas IndoRunners Jakarta. Program latihan yang mereka tawarkan adalah easy pace 3k – 5k. Wah, boleh nih dicoba. Hitung-hitung persiapan Marathon, pikir saya.

Lokasi meeting point awal adalah depan patung Soekarno – Gelora Bung Karno gate 5. Setibanya di pintu gerbang gate 5, saya dilarang masuk oleh petugas sekuriti karena area GBK sedang ditutup untuk umum. Memang, menjelang 1 bulan perhelatan Asian Games 2018 yang akan dilakukan bulan Agustus, pemerintah makin gesit mempersiapkan fasilitas olahraga yang ada di ibukota. Bingung lah saya harus kemana hingga teman saya mengabari lokasi meeting point yang baru.

Langsung saya menuju mal FX Senayan dan berkumpul dengan teman-teman IndoRunners yang sudah menunggu disana. Ini pertama kalinya saya mengikuti TNR setelah sekian lama mantau ajakan mereka di grup Facebook IndoRunners. Saya terbiasa latihan lari sendiri tapi ada saat dimana saya butuh teman sebagai motivasi diri. Alasan terakhirlah yang membuat saya ikut TNR ini.

Saya mengenal dunia lari secara serius sejak tahun lalu. Saya mengikuti kategori 10K di 6 event berbeda dengan pengalaman yang berbeda-beda pula. Saya memulai lari 10K di event Milo Jakarta International 2017 dengan waktu nyaris Cut Off Time (COT). Seingat saya hasil waktunya – 1:59:37. Mepet banget kan.. Jadi, sejak itu saya mulai rajin latihan biar waktunya ga mepet COT tapi latihan sendiri.

Di TNR kemarin kamis, saya berkenalan dengan banyak teman pelari baru. Rute lari 3K : FX – Plaza Senayan – FX sedangkan 5K : FX – Plaza Senayan – FX – SCBD. Biarpun saya sering ikut event lari tapi saya hanyalah pelari hore yang latihannya masih bolong-bolong. Masih belajar teknik berlari dan teknik bernafas yang tepat sehingga saat kilometer awal dan merasa lelah, saya memilih untuk berjalan cepat padahal dianjurkan coach untuk tidak berjalan tapi berlari pelan saja. Namun apa daya, saya masih suka ga sabar untuk berlari pelan. Tubuh ini maunya berlari cepat. Oleh karena itu, saya cepat kehabisan nafas di awal lari. Hal ini juga yang perlu dilatih. Kontrol diri. Untungnya saya ikut kegiatan ini, saya tidak ditinggal sendirian. Setibanya di area SCBD, kami berfoto-foto terlebih dahulu sembari mencari oksigen kemudian balik ke FX dengan berlari. :’)

Kalau boleh jujur, saya sudah kelelahan. Pengennya jalan atau pesan gojek untuk balik ke FX tapi saya ingat lagi tujuan saya berlari apa. Saya gak mau membiarkan diri saya manja dengan fasilitas yang ada. Akhirnya saya kembali berlari menuju lokasi awal ditemani pelari lainnya (yang bersabar mengikuti pace keong saya ini). Oh ya, saya juga pertama kali menjelajah kawasan SCBD ini. Ternyata SCBD cukup luas yaa. Pesan pelari yang menemani saya cukup jelas, ‘jangan kapok ya.’ Saya gak kapok, justru saya ingin makin rajin latihan lagi biar gak kuat.

Akhirnya saya dan teman saya tiba di FX. Ternyata tinggal kami berdua yang belum tiba dari rombongan. Minum sebentar langsung dilanjutkan pendinginan. Esok paginya, ketika bangun tidur badan tidak pegal tapi betis berasa kencang. Thursday Night Run (TNR) perdana. Sungguh berkesan untuk pelari hore seperti saya. Saya tidak kapok!

#Sport

#RunningCommunity

#SelfDevelopment

 

Jakarta Barat, 23 Juli 2018

Meluangkan waktu untuk menulis.

Advertisements

Menanti Borobudur Marathon 2018

Berawal dari share informasi undian slot lari Borobudur Marathon 2018 melalu WA grup lari kantor, saya iseng mengisi data diri dan memilih kategori Half Marathon (21K). Ya, tahun 2018 ini saya ingin naik kelas dari kategori 10K menjadi HM. Agak nekat sebenarnya karena diri ini masih merasa ragu, mampukah saya berlari dengan jarak 21K dibawah Cut Off Time (COT) – batas waktu maksimal yang ditentukan bagi pelari untuk menyelesaikan suatu lomba.

Tak disangka-sangka awal Febuari 2018 saya mendapatkan email dari panitia Borobudur Marathon 2018 kalau saya beruntung mendapatkan slot lari. Kaget, gak percaya dan bersyukur saya memenangkan undian ini. Ini artinya saya harus membulatkan tekad rajin berlatih (meskipun beberapa kali bolong latihannya) agar kuat berlari sepanjang 21K. Apa yang saya lakukan untuk berlatih?

Saya kadang bergabung dengan komunitas non-lari seperti Workout Embassy untuk berlatih teknik HIIT atau Tabata yang konon bisa mendukung performa berlari. Untuk latihan lari, saya seringkali berlatih sendirian di pagi hari sebelum berangkat kantor, pergi ke GOR Soemantri di kawasan Kuningan, Jakarta atau keliling gedung kantor saya. Sekedar mencari keringat đŸ˜‰

Sekedar informasi, Borobudur Marathon 2018 diadakan oleh KOMPAS yang memang terkenal sukses dan bagus dalam menyelenggarakan event didukung oleh Bank Jawa Tengah dan Taman Wisata Candi Borobudur. Saya baca review di grup facebook IndoRunners, para pelari yang mengikuti event ini tahun lalu merasa sangat puas. Jadi, saya rasa saya tidak salah memilih event lari di tahun 2018 ini. Ayo, kamu mau ikut berlari sama saya?

Jakarta, 18 Febuari 2018

Pukul 23.31 wib

Produk Susu versi Eropa

Sebagai seorang yang memiliki batas toleransi laktosa, betapa senangnya saya saat menemukan produk susu cair langsung minum masih bisa beraktivitas seharian. Akan berbeda bila saya membeli produk susu di Indonesia, pasti pencernaan saya langsung bereaksi. Padahal saya suka banget dengan segala olahan susu seperti susu, keju atau yogurt. Menurut Wikipedia, Intoleransi laktosa (Inggris : Lactose Intolerance) adalah kondisi di mana laktase, sebuah enzim yang diperlukan untuk mencerna laktosa, tidak diproduksi dalam masa dewasa (https://id.wikipedia.org/wiki/Intoleransi_laktosa).

Pengalaman menyenangkan itu terjadi saat saya dan keluarga berlibur ke Eropa bulan April 2017 lalu. Negara pertama yang kami kunjungi adalah Belanda. Di dekat apartment yang kami sewa, ada toserba kecil yang dikelola warga Belanda keturunan Turki. Walaupun tokonya terlihat kecil, barang-barang jualan mereka tergolong lengkap dengan ukuran cukup besar bagi orang Indonesia. Saat saya melihat susu cair 2 liter seharga 1,89 euro, saya sempat ragu untuk membelinya. Mengingat pencernaan saya tidak kuat untuk menghadapi gempuran cairan susu ini. Namun, adik saya menyarankan untuk beli saja agar bisa diminum bareng keluarga. Udara makin terasa dingin begitu kami keluar dari toserba tersebut. Angin musim dingin masih bertiup di Belanda saat itu meskipun sudah memasuki musim semi.

Setibanya di apartment, saya langsung menuangkan susu ke gelas dan menawarkan kepada orangtua dan saudara lainnya. Produk susu versi Eropa ini rasanya tidak terlalu manis bahkan cenderung tawar namun masih terasa segar untuk diminum. Beda dengan produk lokal yang cenderung memiliki rasa manis. Setelah beberapa jam meminum susu tersebut, saya masih bisa beraktivitas seperti biasa tanpa perlu bolak-balik ke kamar mandi. Sungguh pengalaman yang menyenangkan bisa meminum susu tanpa rasa khawatir.

Note : perjalanan dilakukan pada bulan April 2017 saat bepergian ke Eropa bersama keluarga.

diedit di Jakarta, 18 February 2018

pukul 22.57 wib

Terbang Menuju Eropa

Setahun lalu, saya dan keluarga terbang menuju Belanda, sebagai negara Eropa pertama yang kami kunjungi. Kami berangkat menggunakan pesawat Garuda Indonesia. Rencana perjalanan ini sudah kami bicarakan sejak awal tahun 2016. Segala dokumen, pengajuan visa, keuangan dan booking penginapan / transportasi sudah kami atur agar nyaman dalam melakukan perjalanan hingga tibalah hari perjalanan kami..

Kami berangkat tanggal 5 April 2017 malam dari terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Rasanya deg-degan membayangkan besok pagi sudah tiba di Bandara Schiphol, Amsterdam, Belanda. Namun sebelum tiba di sana, kami harus transit di Changi Airport, Singapura untuk ganti pesawat. Di bandara Changi, kami harus menghadapi pemeriksaan barang dan menunggu di ruang tunggu sebelum melanjutkan terbang ke Eropa. Saat menunggu tersebut, saya gunakan untuk tidur sejenak. Melewati pemeriksaan barang di Bandara Changi, Singapura menjadi pengalaman seru buat saya. Petugasnya tegas dan tidak ada senyum sama sekali. Pukul 24.00 waktu Singapura, saya kembali memasuki pesawat untuk melanjutkan perjalanan. Europe, I’m coming!

Lama perjalanan dari Singapura menuju Belanda sekitar 13 jam. Selama di pesawat kerjaan saya hanya nonton, tidur, bangun, makan, tidur, bangun, makan, nonton lagi dan begitulah hingga saya merasa lelah. Saya luangkan beberapa menit untuk meluruskan kaki dengan berkeliling di dalam pesawat, pergi ke toilet atau sekedar stretching di dekat toilet. Disaat sedang peregangan badan, saya diarahkan pramugari untuk kembali ke tempat duduk karena pesawat mau mendarat. Akhirnya tanggal 6 April 2017, kami tiba juga di Bandara Schiphol, Amsterdam, Belanda. Seperti biasa pilot akan mengucapkan sebuah pesan untuk penumpangnya ketika hendak mendarat dan betapa terkejutnya kami ketika mendengar bahwa suhu saat itu adalah 7 derajat Celcius. Hah?

Pakaian yang kami kenakan hanyalah mantel sedikit tebal dan pashmina yang dilingkarkan di leher. Begitu kami keluar pesawat, angin dingin menerpa kulit wajah. Saya merasa seperti ‘ditampar’ bolak-balik oleh angin. Dingiiiin banget! Kami langsung bergegas menuju bus maskapai yang sedang parkir dekat pesawat. Brrr!

#SimbolonGoesToEurope #April2017